Dunia Persiapkan Bekal untuk Akhirat

Oleh DR Awaluddin Pimay

Kehidupan dunia asyik, namun di balik keasyikan itu kita akan merasakan kekecewaan. Seperti halnya kita memiliki barang berharga maka kelak akan bosan dan kecewa. Juga ketika memiliki barang berharga di dunia, mereka akan meninggalkan kita ketika mati.
Berbeda dengan kehidupan di akhirat. Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal dan abadi. Kita harus mempersiapkannya. Kelak jika dipersiapkan dari sejak dini maka tidak ada penyesalan sama sekali. Karena dunia sementara akhirat selamanya.
“Wa mal hayatut dunya illal mataaul ghuruur, kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali-Imran: 185)
Kehidupan dunia ini hanya tipu daya semata dan sangat disayangkan. Kehidupan ini jaraknya antara adzan dan iqomah, maka sepatutnya yang harus dipersiapkan adalah bekal di akhirat yang bikin kekal di sana.
Rasulullah SAW bersabda: “Akan datang suatu masa pada umatku, di mana mereka mencintai lima perkara dan lupa terhadap lima perkara. Pertama, mereka cinta dunia dan melupakan akhirat. Kedua, mereka cinta hidup dan melupakan kematian. Ketiga, mereka cinta bangunan-bangunan mewah dan melupakan kubur. Keempat, mereka cinta kepada harta dan melupakan hisab. Kelima mereka cinta kepada makhluk dan melupakan Pencipta.”
Dari itu hadits tersebut bisa dipetik untaian hikmah. Pertama cinta dunia berlebih akan tetapi lupa dengan kehidupan akhirat. Hal itu selaras dengan pengetahuan kita terhadap rukun iman kelima yang pada dewasa ini sering dipahami sebatas pengetahuan semata, tanpa adanya aplikasi dalam dunia nayata.
Contohnya manusia yang disibukkan dengan perilaku memperkaya diri secara dhohir saja dan lupa terhadap pengayaan diri berupa batiniyah. Padahal berapapun harta yang dikumpulkan di dunia ini pada akhirnya semua itu akan dihisab oleh Allah kelak di hari penimbangan amal. Kalau proses mencari rizki ini dilakukan dengan cara halal dan diniatkan untuk beribadah kepada Allah maka ganjarannya tiada terkira.
Kedua, cinta terhadap hidup lama dunia, tapi lupa bahwa akan mati. Kullu nafsi dzaiqotul maut, setiap yang berjiwa akan mati. Dunia adalah persiapan guna ketika ditanya malaikat munkar nakir. Setiap manusia pasti akan mati. Dunia ini merupakan ladang amal guna menghadapi kehidupan di akhirat.
Semua pasti mati. Orang kaya, miskin, presiden, anak-anak, pedagang, guru, semua pasti mati. Semuanya akan pergi menghadap Allah SWT untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya selama di dunia. Mati pun juga tak menunggu tua dan sakit. Banyak anak-anak mati, remaja mati, bahkan orang sehat pun tiba-tiba mati. Itu semua merupakan kuasa Allah SWT.

Ketiga, cinta dengan rumah bak istana tetapi lupa dengan kubur. Pada masa ini, manusia berlomba-lomba membangun rumah besar, istana megah di dunia. Namun mereka lupa untuk membangun istana di akhirat. Padahal kenyamanan abadi adalah kenyamanan di surga di akhirat. Betapapun besarnya rumah yang dihuni akhirnya akan menempati rumah sempit.
Keempat, cinta terhadap harta tetapi lupa dengan sedekah. Diantara hal yang membuat manusia terlena akan kehidupan dunia yaitu harta. Mereka menganggap dengan harta yang banyak dapat memiliki segalanya dan bahagia. Mereka kemudian menghalalkan segala cara dalam mengumpulkan harta tanpa memikirkan halal haram. Padahal semua harta yang mereka miliki kelak akan dipertanggungjawabkan di akhirat.
Dari mana mereka mendapatkan harta itu, dan untuk apa saja mereka menggunakan harta tersebut. Banyak orang kaya yang sombong dan pelit. Padahal harta yang kita dapatkan 2,5% adalah milik orang yang berhak. Kita diwajibkan untuk berzakat, Namun mereka menganggap dengan bersedekah dan berzakat harta mereka akan berkurang. Padahal tidak sama sekali. Justru dengan bersedekah harta akan bertambah banyak. Jadi pertanyaannya, sudah berapa persen kita menyisihkan harta kita?
Kelima, cinta dengan dengan makhluk dan melupakan pencipta. Banyak manusia yang lebih mengandalkan sesamanya untuk suatu urusan. Banyak juga yang berharap kepada orang lain demi sesuatu yang ia inginkan. Contohnya sebentar lagi akan dilakukan bersama pesta demokrasi Pemilukada. Para calon terkadang menghalalkan segala cara. Ironisnya dengan cara menyogok, black campaign demi kedudukan yang diincarnya. Mereka terlalu berharap kepada dunia, terlalu berharap kepada orang lain. Padahal kita diperintahkan untuk berharap hanya kepada Allah.
Inilah pesan Rasul dan pasti akan dialami umat manusia, sebab hadits rasul tidak mugkin tidak akan terjadi kelak dikemudian hari bagi umatnya. Mari menganggap dunia ini sebagai fana dan akan kita tinggalkan dani mari mempersiapkan bekal untuk hidup di akhirat, maka perbanyak urusan dengan pendekatan keadaa Allah, alam kubur dan mengingatkan bahwa dunia ini hanya panggung sandiwara belaka.
Semua keluarga kita selamat dunia akhirat dan jadi sakinah mawadah wa rarahmah wa barokah. Dan anak shalih dan shalihah, semoga kita semua khusnul khotimah. (Awaluddin Pimay, disampaikan dalam khutbah Jumat di Masjid Al Azhar Permata Puri, 22 Desember 2017. Nara sumber adalah Dosen UIN Walisongo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *