NILAI – NILAI PENDIDIKAN DALAM AYAT – AYAT TEGURAN

Ditulis Oleh Slamet Riyanto

Kedudukan akhlak dalam kehidupan manusia menempati posisi yang amat penting, baik sebagai individu maupun masyarakat dan bangsa, sebab jatuh bangunnya suatu masyarakat tergantung kepada bagaimana akhlaknya. Apabila akhlaknya baik, maka sejahteralah lahir dan batinnya, apabila akhlaknya rusak, maka rusaklah lahir dan batinnya.

Kejayaan seseorang terletak pada akhlaknya yang baik, karena akhlak yang baik selalu membuat seseorang merasa aman, tenang dan tidak adanya perbuatan yang tercela. Seseorang yang berakhlak mulia selalu melaksanakan kewajiban-kewajibannya. Dia melakukan kewajiban terhadap dirinya sendiri, sesama makhluk dan terhadap Tuhannya. Sedangkan seseorang yang berakhlak buruk menjadi sorotan bagi sesamanya. Seperti orang yang melanggar norma-norma yang berlaku dalam kehidupan. Maka yang demikian ini menyebabkan kerusakan susunan sistem lingkungan, sama halnya dengan anggota tubuh yang terkena penyakit.

Islam sendiri memandang akhlak adalah sebagai kebutuhan pokok bagi umatnya. Karena memang akhlak yang baiklah yang dapat mendatangkan kebahagian di dunia maupun akhirat. Kehadiran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw diyakini dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir batin, sejahtera di dunia maupun akhirat. Di dalamnya terdapat berbagai petunjuk tentang bagaimana seharusnya manusia itu menyikapi hidup dan kehidupan ini secara lebih bermakna.[1]

Pertunjuk-petunjuk agama mengenai berbagai kehidupan manusia yang berkaitan dengan tingkah laku manusia atau akhlak tampak amat ideal dan agung. Islam mengajarkan kehidupan yang dinamis dan progresif, bersikap seimbang dalam memenuhi kebutuhan material dan spiritual. Islam sangat memperhatikan adanya kepedulian sosial, menghargai sesama, bersikap terbuka, demokratis, mengutamakan persaudaraan, berakhlak mulia dan sikap-sikap positif lainnya. Akan tetapi belakangan ini seakan-akan umat Islam dalam praktiknya menampilkan keadaan yang berbeda dari cita-cita ideal tersebut. Hal ini terbukti masih banyaknya berita-berita tidak benar yang beredar dalam masyarakat kita sehingga menimbulkan perpecahan diantara masyarakat bahkan umat Islam itu sendiri.

Pada dasarnya, tujuan pokok akhlak adalah agar setiap muslim berbudi pekerti, bertingkah laku, berperangai atau beradat istiadat yang baik sesuai dengan ajaran Islam. Kalau diperhatikan, ibadah-ibadah inti dalam Islam memiliki tujuan pembinaan akhlak mulia. Sholat bertujuan mencegah seseorang untuk melakukan perbuatan-perbuatan tercela. Zakat selaian bertujuan menyucikan harta juga bertujuan menyucikan diri dengan memupuk kepribadian mulia dengan cara membantu sesama. Puasa bertujuan mendidik diri untuk menahan dari berbagai syahwat dan nafsu. Haji bertujuan diantaranya untuk memunculkan tenggang rasa dan kebersamaan dengan sesama.[2]

Sumber ajaran akhlak dalam Islam adalah al-Qur’an dan hadis.[3] Al-Qur’an adalah sumber utama dan mata air yang memancarkan agama Islam. Hukum-hukum Islam yang mengandung serangkaian pengetahuan tentang akidah, pokok-pokok akhlak dan perbuatan dapat dijumpai sumber aslinya di dalam al-Qur’an.[4] Al-Qur’an berfungsi menyampaikan risalah hidayah untuk menata sikap dan perilaku yang harus dilakukan manusia. Ayat-ayat al-Qur’an sangat membangun karakter akhlak. Beberapa diantaranya adalah pengarahan agar umat manusia berakhlakul karimah, seperti dalam QS. Ali Imran (3): 104

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. ) Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran/3: 104)

Apabila dicermati, terdapat jumlah yang amat banyak dari presentase ayat-ayat yang berbicara mengenai akhlak. Al-Qur’an sendiri juga melakukan proses pendidikan akhlak melalui ayat-ayat-Nya. Pendidikan akhlak ini merupakan sebuah proses mendidik, memelihara, membentuk dan memberikan latihan mengenai akhlak. Karena itu, kedudukan akhlak dalam al-Qur’an sangat penting, sebab melalui ayat-ayat-Nya al-Qur’an berupaya membimbing dan mengajak umat manusia untuk berakhlakul karimah. Melalui pendidikan akhlak ini, manusia dimuliakan oleh Allah Swt dengan akal, sehingga manusia mampu mengemban tugas kekhalifahan dengan akhlak yang benar.[5]

Selain al-Qur’an, sumber akhlak lainnya adalah sunnah Nabi Muhammad Saw. Oleh karena itu, Rasul merupakan teladan bagi orang-orang yang memang berkehendak kembali kepada Allah, menyakini hari akhir dan orang-orang yang senantiasa mengingat Allah Swt.[6] Hal ini sesuai dengan apa yang telah disebutkan dalam QS. Al Ahzab/33: 21 yang berbunyi:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah. (QS. Al Ahzab/33: 21)

Perhatian Islam terhadap pembinaan akhlak dapat dijumpai dalam hadis-hadis Nabi Muhammad Saw, sebagaimana terlihat dalam ucapan dan perbuatan beliau yang mengandung akhlak. Ucapan-ucapan nabi yang berkenaan dengan pembinaan akhlak yang mulia itu diikuti pula oleh perbuatan dan juga kepribadian beliau. Beliau dikenal sebagai orang yang shidiq (benar), amanah (terpercaya), tabligh (menyampaikan dakwah), fathanah (cerdas). Selanjutnya beliau juga sebagai orang yang taat beribadah kepada Allah, jauh dari perbuatan maksiat, pemaaf, sabar, lapang dada, menghargai pendapat orang lain, menyayangi kaum yang lemah dan lain sebagainya. Semua ini menjadi daya tarik tersendiri dan menyebabkan beliau berhasil dalam melaksanakan dakwahnya dengan baik.[7]

Islam menuntut setiap pemeluknya untuk menjadikan Rasulullah Saw sebagai contoh dalam segala aspek kehidupan. Khusus dalam akhlak, Allah Swt memuji beliau dengan diiringi sumpah:

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur (QS. Al Qalam/68: 4)

Nabi Muhammad Saw pun mengabarkan bahwa orang yang paling sempurna keimanannya diantara umatnya adalah yang paling baik akhlaknya. Dengan demikian, seyogyanya seorang muslim berusaha dan bersemangat untuk memiliki akhlak yang baik dan merujuk kepada Rasulullah Saw dalam berakhlak.[8]

Sebagaimana telah dijelaskan dalam sebuah hadis, bahwa tujuan diutusnya Nabi Muhammad Saw adalah untuk menyempurnakan  akhlak.

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

Sungguh aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. (HR. Al-Bukhari, Abu Dawud, dan Hakim).

Hadis tersebut berkaitan erat dengan firman Allah dalam QS. Al-Anbiya’ (21) ayat 107:

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam (QS. Al-Anbiya’/21: 107)

Hubungan antara hadis dan ayat di atas, adalah rahmat yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw bagi semesta alam, terwujud melalui penyempurnaan akhlak atau budi pekerti. Dengan mengetahui tujuan utama diutusnya Nabi Muhammad Saw, akan dapat mendorong kita untuk mencapai akhlak mulia. Akhlak merupakan sesuatu yang paling penting dalam agama, bahkan tujuan utama ibadah sekalipun adalah untuk mencapai kesempurnaan akhlak.[9]

Sudah jelas diterangkan di atas bahwa pedoman kita dalam berakhlak mulia adalah dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Saw. Sudah banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an dan hadis-hadis nabi yang menjelaskan tentang bagaimana cara berakhlak mulia. Namun dari sekian banyak ayat dan hadis tersebut, ada ayat dan kisah dari Nabi Muhammad Saw yang menakjubkan, yang dapat kita gunakan sebagai pelajar  dalam berakhlak mulia yaitu ayat-ayat al-Qur’an yang berisi teguran kepada Nabi Muhammad Saw. Dimana teguran-teguran itu akibat sikap dan ucapan beliau yang dinilai oleh Allah Swt sebagai tidak wajar lahir dari seorang yang dijadikan teladan oleh Allah Swt. Melalui kisah dan ayat-ayat teguran ini kita dapat mengambil banyak sekali pelajaran, terutama mengenai nilai-nilai pendidikan akhlak.


[1] M. Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif Al Qur’an, (Jakarta: Amzah, 2007), hlm. 19.

[2] Rosihon Anwar, Akhlak Tasawuf, (Bandung: Pustaka Setia, 2010), hlm. 25.

[3] M. Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif Al Qur’an, hlm. 4.

[4] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), hlm. 58.

[5] Ulil Amri Syafri, Pendidikan Karakter Berbasis Al Qur’an, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), hlm. 65.

[6] Ridhahani, Pengembangan Nilai-nilai Karakter Berbasis Al Qur’an, (Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2016), hlm. 5.

[7] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, hlm. 65.

[8] Rosihon Anwar, Akhlak Tasawuf, hlm. 24.

[9] Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak, (Jakarta: Amzah, 2016), hlm. 21.